Thursday, August 21, 2014

Saat Badai Matahari Mematikan Tiba, Bisakah Bumi Menghindarinya?



Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam maupun malapetaka akibat ulah manusia terus terjadi di Bumi, gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrim, kecelakaan pesawat dan peristiwa buruk lainnya kerap terjadi di berbagai sudut belahan dunia. Baru-baru ini, ilmuwan Inggris Ashley Dale kembali memperingatkan bahwa "badai super" matahari akan menimbulkan ancaman besar yang berlangsung lama dan mematikan bagi kehidupan di muka bumi.

Meskipun pada 2012 lalu, bumi terhindar dari bencana matahari, namun, ahli terkait menuturkan, bahwa dalam 10 tahun ke depan, kemungkinan terjadinya badai matahari super mencapai 12%, dan bisakah bumi lolos dari maut bila tiba saatnya nanti ?

Badai matahari super disebabkan oleh ledakan keras di permukaan matahari, diiringi dengan coronal mass ejections (lontaran massa korona). CMEs atau lontaran massa korona merupakan peristiwa yang memiliki vitalitas dan energi yang tinggi di tata surya, memuntahkan gelembung plasma dan medan magnet yang kuat dari permukaan matahari ke angkasa.

Dalam proses terjadinya badai matahari, akan muncul letusan protuberan atau letusan gas matahari di permukaannya. Letusan protuberan adalah suatu aktivitas pelepasan dalam skala besar dari energi matahari, dan energi matahari ini dilepaskan dalam bentuk sinar gamma, sinar-X, proton dan elektron.

Jika kekuatan medan megnetnya lontaran massa korona itu dapat menembus perlindungan medan magnet bumi, maka akan terjadi badai matahari super.
Selain matinya listrik, badai matahari super akan menyebabkan penyebaran penyakit menular.

Radiasi partikel energi tinggi yang dihasilkan lontaran massa korona akan membahayakan keselamatan pesawat ruang angkasa, satelit dan astronot, mungkin akan mengacaukan magnetosfer jika menabrak bumi, dan dapat menyebabkan peningkatan tajam pada arus listrik di jalur transmisi bawah tanah dan transmisi overhead, dan mengakibatkan pemadaman listrik skala luas, sekaligus merusak inti komponen listrik.

Selain badai matahari super tidak hanya akan menyebabkan kerusakan serius pada sistem komunikasi dan pasokan listrik, tapi juga secara serius memengaruhi beberapa layanan publik yang penting seperti transportasi, sanitasi dan perawatan medis.

Menurut laporan "The Daily Mail" Inggris, Dale adalah salah satu personel SolarMax dari tim internasional yang berupaya mempelajari risiko badai matahari serta bagaimana meminimalisir dampak yang ditimbulkannya. "Orang-orang akan menghadapi akibat ancaman dari badai matahari super," ujarnya.

Saat ini, Dale menjalani studi di Aerospace Engineering Universitas Bristol, menurutnya, hanya "masalah waktu" saja bumi akan menghadapi badai matahari yang dahsyat. Badai tersebut akan secara serius merusak sistem komunikasi dan listrik, mengakibatkan transportasi, perawatan kesehatan dan industri farmasi menjadi lumpuh. "Tanpa listrik, orang-orang tidak bisa mengisi bahan bakar di pom bensin, tidak dapat menggunakan mesin teller otomatis atau pembayaran online," ungkap Dale.

Menurut Dale, air dan sistem pembuangan kotoran akan terpengaruh, artinya penyebaran penyakit meluar di daerah perkotaan akan lebih cepat, sehingga kita akan kembali menghadapi penyakit yang sudah tidak eksis pada beberapa abad silam.

Kemungkinan terjadinya badai matahari super dalam 10 tahun ke depan mencapai 12%.

Badai matahari super tidak akan hanya akan menyebabkan kerusakan parah pada sistem komunikasi dan pasokan listrik, tapi juga secara serius akan memengaruhi beberapa layanan publik penting seperti transportasi, sanitasi dan perawatan medis. (NASA)

Badai matahari terbesar selama ini terjadi pada tahun 1859 lampau, yang disebut peristiwa Carrington, kekuatan energi yang dipancarkan massa korona kala itu setara dengan 100 miliar bom atom di Hiroshima, sementara itu, hampir satu triliun kilogram partikel bermuatan listrik menyembur ke bumi dengan kecepatan 3000 km/detik. Karena dampak badai matahari, operator telegraf telegraf di seluruh dunia melaporkan bahwa mesin mereka memancarkan bunga api, bahkan kabel juga meleleh. Malam itu, aurora atau cahaya kutub utara yang berwarna warni menyelimuti Kuba dan Hawaii, AS.

Dalam artikel yang dipublikasikan di "The New World of Mr Tompkins", Dale menuturkan, bahwa peristiwa badai matahari bukan hanya ancaman, tapi itu pasti dan tak terelakkan. Ilmuwan NASA memprediksi, bahwa waktu rata-rata terjadinya peristiwa Carrington adalah 150 tahun, dan waktu dari peristiwa terkait sekarang sudah 155 tahun.

Fisikawan ruang angkasa AS, Pete Riley juga mengatakan, bahwa rasio badai "Carrington" yang kembali akan terjadi dalam 10 tahun mendatang mencapai 12%, awalnya, saya sangat terkejut, tetapi hasil statistik tampaknya benar, dan ini adalah angka yang patut direnungkan."

Apakah Bumi dapat menghindari badai matahari super berikutnya ?

Dipengaruhi oleh badai matahari, Oktober 2003 lalu, sistem yang berbasis GPS milik US Federal Aviation Administration ditutup selama 30 jam, sehingga berdampak sebagian daerah Swedia. Sebanyak 12 unit transformer di Afrika Selatan rusak, dan tidak bisa diperbaiki. Tingkat badai tersebut hanya seperempat dari badai Carrington.

NASA mengatakan, bahwa pada Juli 2012 lalu, sebuah badai matahari super hampir "menghantam" bumi, kekuatan badai terkait dapat menyebabkan pemadaman listrik dalam skala global, mengubah gaya hidup masyarakat modern, namun bumi sangat beruntung luput dari bencana mematikan itu.

Ketika menyadari ancaman badai matahari, tidak bisa tidak membuat orang-orang menjadi cemas, apakah bumi masih bisa lolos dari badai matahari super berikutnya ?

Kelompok Solarmax terus berusaha menemukan cara meminimalisisr dampak badai matahari. Beberapa ilmuwan menuturkan, bahwa peramalan cuaca ruang yang canggih adalah solusi terbaik, jika orang-orang dapat mengetahui lebih dini waktu terjadinya badai matahari skala besar, akan ada waktu yang cukup untuk mematikan arus kabel listrik yang rapuh, mengatur kembali posisi satelit, pesawat di darat dan program pemulihan nasional.

NASA sedang menguji suatu pesawat ruang angkasa baru, yang dijadwalkan diluncurkan pada 2015 mendatang, untuk membantu para ilmuwan mengukur dan memprediksi cuaca di ruang angkasa.

No comments:

Post a Comment